Asal Usul Musik Keroncong

Asal Usul Musik Keroncong

Asal Usul Musik Keroncong – Keroncong adalah jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik dawai, suling, dan vokal.
Konon Musik Keroncong berasal dari tarian Moresco Arab Moor yang dibawa oleh para pelaut Portugis bersama gitar cavaquinho el slot sejenis ukulele.
Apa pun latar belakangnya, sejarah musik keroncong berawal dari Kampung Tugu sejak zaman Hindia Belanda melalui komunitas Tugu sehingga dinamakan Krontjong Toegoe.

Awal mula kepopuleran musik keroncong adalah pada awal abad ke-20. Saat itu belum ada metode perekaman musik atau industri rekaman.

Dilansir dari situs Indonesia.go.id, walau industri rekaman belum muncul namun situs slot online terbaru itu musik keroncong populer lewat berbagai pentas yang diselenggarakan.

Pentas musik keroncong kala itu sangat menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan untuk membeli tiket dan menonton pertunjukannya.

Saat itu musik keroncong lebih dikenal sebagai tradisi musik rakyat dari Kampung Tugu. Karena disesuaikan dengan lokasi penemuannya, yakni di Kampung Tugu.

Menurut Sunaryo Joyopuspito dalam bukunya yang berjudul MUSIK KERONCONG: Suatu Analisis Berdasarkan Teori Musik, musik keroncong mulai tersebar di Nusantara setelah tahun 1512.
Pada saat itu ekspedisi Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Afonso de Albuqureue melabuh di Malaka dan Maluku.

Mengutip dari situs Dewan Kesenian Jakarta, musik keroncong mulai disebarkan pada abad ke-20, dari Batavia hingga ke Soerabaja atau Surabaya.

Musik keroncong saat itu digunakan sebagai lagu pengiring dalam pentas teater komedi yang membawakan kisah dari Timur Tengah.

Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo.
Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih judi online dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak
Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan
musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.

Hingga saat ini, musik keroncong tetap menjadi primadona masyarakat Indonesia dan masih terus diminati.

Be the first to leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.